Jumat, 29 November 2013

pemikiran pendidikan menurut Ikwan ash-Shafa

Pemikiran Pendidikan Islam Ikhwan as-Shafa
Oleh : Khairunnisa
Nim : 1121100019
A.    Pendahuluan
               Dalam kajian filsafat pendidikan Islam, ada beberapa tokoh muslim yang sangat berjasa dalam pengembangan/pembaharuan pemikiran pendidikan Islam, khususnya dari para filosof Muslim, seperti al-Farabi, Al-Ghazali, Ibn Khaldun, Ikhwan al-Shafa, dan lain sebagainya. Ikhwan al-Shafa adalah salah satu organisasi yang didirikan oleh sekelompok masyarakat yang terdiri dari para filosof. Sebagai perkumpulan atau organisasi yang bersifat rahasia, Ikhwan al-Shafa menfokuskan perhatiannya pada bidang dakwah dan pendidikan. Organisasi ini juga mengajarkan tentang dasar-dasar Islam yang didasarkan oleh persaudaraan Islamiyah (ukhuwah Islamiyah), yaitu sikap yang memandang iman seseorang muslim tidak akan sempurna kecuali ia mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri. Ikhwan al-Shafa muncul setelah wafatnya al-Farabi. Kelompok ini telah berhasil menghimpun pemikirannya dalam sebuah ensiklopedi tentang ilmu pengetahuan dan filsafat yang dikenal dengan “Rasail Ikhwan al-Shafa”. Identitas pemuka mereka tidak terang karena mereka bersama anggota mereka memang merahasiakan diri. Sebagai kelompok rahasia, Ikhwan al-Shafa dalam merekut anggota baru dilakukan lewat hubungan perorangan dan dilakukan oleh orang-orang yang terpercaya. Dalam makalah ini akan sedikit menyibak tirai rahasia yang disimpan Ikhwan al-Shafa sebagai salah satu organisasi militan yang lebih suka merahasiakan dirinya. Melalui karya monumental, Rasail Ikhwan al-Shafa, kita mencoba mencari jejak-jejak pemikiran Ikhwan al-Shafa yang tertinggal untuk dicari hikmah dan pelajaran.
Makalah ini mengkaji tentang pemikiran pendidikan Islam Ikwan as-Shafa yang menjcakup tentang :
 
1.      Bagaimana sejarah lahirnya Ikhwan al-Shafa
2.      Bagaimana Pemikiran Pendidikan Menurut Ikhwan Al-Shafa
3.      Bagaimana sistem Pendidikan Ikhwan Al-Shafa


              
Tujuan penulisan makalah ini adalah :

            Untuk mengetahui sejarah lahirnya ,sejarah pendidikan , dan pemikiran-pemikiran Ikhwan as-Shafa’ sehingga kita dapat mengetahui sistem bagaimana pemdidikan pada masa itu dan dapat mengambil hal-hal fositif dalam pemikiran Ikhwan as-Shafa.

B.     Sejarah Lahirnya Ikwan Al-Shafa
                         Ikwan Al-Shafa adalah perkumpulan para mujtahidin dalam bidang filsafat yang banyak memfokuskan perhatiannya pada bidang dakwah ddan pendidikan. Perkumpulan ini berkembang pada abad kedua Hijriyah di kota Bashrah, Irak. Organisasi ini antara lain mengajarkan tentang dasar-dasar agama islam yang didasarkan pada persaudaraan islamiyah (ukhuah islamiyah), yaitu suatu sikap yang memandang iman seorang muslim akan sempurna kecuali jika ia mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri. Sebagai sebuah organisasi ia memiliki semangat dakwah an tabligh yang sangat memiliki kepedulian yang tinggi terhadap orang lain. Semua anggota perkumpulan ini wajib menjadi guru dan mubaligh terhadap orang lain yang terdapat di masyarakat. Disinilah letak relevansinya berbicara Ikwan al-Shafa dengan pendidikan. (Nata.2005:231)
                         Sebutan atau nama “Ikhwan Al-Shafa” di turunkan dari sebuah kisah tentang burung merpati, kisah burung merpati dalam Kalilah wa Dimnah dipilih oleh Ikwan Al-Shafa  sebagai sumber rujukan penamaan dirinya, karena ajaran moralnya yang benilai tinggi. Ajaran moral yang dimaksud berupa hikmah yang bernilai edukatif bagi umat manusia, termasuk umat islam yang pada saat itu semangat persaudaraannya relatif terkoyak. Satu hal yang menjadi kebijakan Ikhwan as-shafa’ adalah merahasiakan keberadaan dan identitas diri atau kelompok serta ajarannya. Akibatnya Ikhwan as-shafa kemudian disebut dengan kelompok rahasia. Berkaitan dengan perihal penetapan “tempat” asal kemunculan dan sentral aktivitas (gerakan) Ikwan as-shafa’ dapat dikatakan bahwa hingga sekarang masih terjadi perdebatan di kalangan para ahli. Sehubung dengan penetapan kota bashrah sebagai tempat asal kelahiran dan sentral aktivitas Ikhwan as-shafa’ ini, Abu Hayyan at-Tauhidi menyatakan dapat disimpulkan bahwa Menurut penjelasannya, bahwa menurutnya adanya sejumlah tempat (kota) selain Bashrah dan Baghdad, tentu sebatas sebagai cabang semata, masih sangat dimungkinkan. Memang, kota baghdad sebagai cabang terpenting bahsrah, tetapi sejumlah tempat yang selainnya masih sangat berpeluang untuk diposisikan juga sebagai cabang basrah. Pandangan ini dapat didasarkan pada tradisi dakwah Ikhwan as-Shafa’ yang dilakukan lewat pengiriman para propagandisnya ke barbagai daerah.(Muniron.76)        

c.       Pemikiran Pendidikan menurut Ikhwan as-Shafa
             Menurut Ikwan as-Shafa bahwa perumpamaan orang yang belum didik dengan ilmu akidah, ibarat kertas yang masih putih bersih, belum ternoda apapun juga. Apabila kertas ini ditulis sesuatu, maka kertas tersebut telah mamiliki bekas yang tidak mudah dihilangkan.
                         Organisasi ini memandang pendidikan dengan pandangan Rasonal dan emperik, atau perpaduan antara pandangan yang bersifat intelektual dan faktual. Mereka memandang ilmu sebagai gambaran dari sesuatu yang dapat diketahui di alam ini. Dengan kata lain, ilmu yang dihasilkan oleh pemikiran manusia itu terjadi karena mendapat bahan-bahan informasi yang dikirim oleh panca indera.
                         Menurut Ikwan as-Shafa semua pengetahuan berpangkal kepada cerapan Inderawiah. Banyak para pakar yang berpendapat bahwa pengetahuan-pengatahuan itu bertumpu pada premis-premis rasional. Mereka menganggap aktifitas mengetahui sebagai pengingatan ulang, dengan berpijak pada teori pengetahuan plato padahal tidak seperti itu.



                         Berangkat dari teori empiris realistik Ikhwan Al-shafa merumuskan Rasio;
             “sesungguhnya rasio manusia tiada lain hanyalah jiwa yang berfikir. Dikala manusia berada dalam usia dewasa. Jiwa awal pada waktu awal bersatu dengan badan, yaitu periode janin dalam rahim, adalah sesuatu yang amat sederhana, tidak berpengetahuan, tidak berakhlak, dan tidak beraliran, sebagaiman difirmankan Allah,:
ª!$#ur Nä3y_t÷zr& .`ÏiB ÈbqäÜç/ öNä3ÏF»yg¨Bé& Ÿw šcqßJn=÷ès? $\«øx© Ÿ@yèy_ur ãNä3s9 yìôJ¡¡9$# t»|Áö/F{$#ur
 noyÏ«øùF{$#ur   öNä3ª=yès9 šcrãä3ô±s? ÇÐÑÈ
Artinya:
Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.           (an-Nahl:78)
                         Ia hanyalah suatu subtansi rohaniah yang hidup  dan mempunyai potensi berkembang. Sewaktu jiwa mendapat “impres” dan “stimuli” inderawiyah-sensual dengan ragam jenis dan macamnya, lalu dipersepsikan, dikenal, diidentifikasi dan dieksperimentasikan. Dengan demikian, jiwa di sebut sebagai berakal dan mengetahui secara aktual.”
                         Berdasarkan kedua teori tentang pengetahuan dan rasio tersebut, Ikwan as-Shafa merumuskan konsep ilmu, belajar dan metode realisasi dalam memperoleh pengetahuan:
             “ketahuilah wahai Saudaraku! Sesungghnya ilmu itu adalah ‘apersepsi’ sesuatu dalam jiwa sujek yang mengetahui, sedangkan lawannnya, kebodohan, adalah tiadannya hal itu dalam jiwa. Ketahuilah bahwa jiwa para ilmuan  (al ulama’) secara aktual-aktif mengetahui (berilmu). Aktifitas belajar-mengajar tiada lain hanyalah pengkapan potensi-potensi agar menjadi kenyataan. Jika hal ini dikaitkan dengan al-alim, maka disebut ta’lim (mengajar); sedangkan jika dikaitkan dengan al-muta’allim (pelajar), maka;disebut ta’allum (belajar)”.(Ridla.2002.159)
                         Didalam surah An-Nahl/16:78 menguraikan jelas menunjukkkan ketidak sepahaman Ikwan As-Shafa’ terhadap pandangan kaum Platonis, yang dengan klaimnya sebagai penerus setia ajaran Plato, dan dengan dasar diktum gurunya al-`ilm tafakkur, menetapkan pengetahan bawaan bagi manusia.
                         Beberapa contoh pokok pikiran mereka mengenai pendidikan dan pengajaran masih relevan dengan pendidikan modern sekarang. Diantaranya adalah tujuan, kurikulum dan metode pendidikan.
a.      Mengenai tujuan pendidikan mereka melihat bahwa tujuan pendidikan haruslah dengan keagamaan. Tiap ilmu, kata mereka merupakan malapetaka bagi pemiliknya bila ilmu ini tidak ditujukan kepada keridhoan Allah dan kepada keakhiratan. Ikhwan al-Shafa menilai ilmu yang paling membahayakan adalah ilmuan yang saat ditanya tentang hal-hal yang telah mengejala ditengah-tengah masyakat luas tidak bisa memberi jawaban (solusi) yang baik dan kritis, melainkan justru turut larut kedalam kesalahan, penyimpangan dan kebodohan dan getol menulis karya-karyanya “manipulatif” yang menghantam para ulama dan filosof.
b.      Mengenai kurikulum pendidikan tingkat akademis mereka berpendapat agar dalam kurikulum mencakap logika, filsafat, ilmu jiwa, pengkajian kitab agama samawi, ilmu syariat, dan ilmu pasti.
c.       Berguru dalam menuntut ilmu sangat penting dalam pandangan pendidik-pendidik islam, karena menurut ikhwan al-shafa pengetahan itu mempunyai syarat-syarat. Syarat-syarat itu dapat diketahui dalam kesanggupan seseorang. Untuk itu diperlukan guru atau pendidik bagi pengajarannya, budi pekertinya, tutur bahasanya , akhlaknya dan pengetahuannya.(Elliisss.2012)
       Dapat disimpulkan dari kutipan yang saya ambil bahwa pendidikan dilihat dari tujuan yang harus di rumuskan dari agama. Dan ilmu akan menjadi malapetaka bagi memilikinya jika ilmu tersebut tidak di bagi atau di turunkan kembali karena ilmu tersebut berupa titipan dari Allah SWT, pendapat ini saling berkaitan dengan apa yang sudah di paparkan pada makalah saya halaman.2 pada alenia pertama yaitu “Semua anggota perkumpulan ini wajib menjadi guru dan mubaligh terhadap orang lain yang terdapat di masyarakat. Disinilah letak relevansinya berbicara Ikwan al-Shafa dengan pendidikan.”

D.    Sistem Pendidikan Ikwan Al-Shafa

                         Sebagai konsekuensi formulasi relasi (kaitan) komplementer dari konsepsi Ikhwan al-shafa tentang manusia, pengetahuan, ilmu/program kurikuler dan belajar, maka mereka membangun teori pendidikn yang komprehensif, sempurna ddan gradual.

             Sudah di jelaskan di atas sesuai dengan surah An-Nahl/16:78 tadi bahwa aktifitas pendidikan mulai sejak belum kelahiran. Sebab , kondisi bayi dan perkembangan sudah dipengaruhi oleh keadaan kehamilan dan kesehatan sang ibu yang hamil. Dengan demikian, perhatian pendidikan harus sudah diberikan sejak masa janin dalam rahim, karena “janin berada dalam rahim selama sembilan bulan itu, adalah agar sempurna bentuk dan kejadiannya setiap orang berakal mengetahui bahwa janin yang lahir dalam keadaan cacat dan tidak sempurna bisa jadi tidak berguna di dunia para dokter pun menasehati ibu-ibu hamil untuk berhati-hati dalam gerak dan beraktifitas, jangan sampai nantinya berdampak buruk bagi janin yang ada dalam rahim. Yang diharapkan dengan hal itu tentunya agar si janin lahir kedunia dalam keadaan sehat dan normal.
                         Dalam sejarah islam kelompok Ikhwan as-Shafa tampil “eksklusif” dengan gerakan reformatif pendidikannya. Karena itu, mereka adalah Ta’limuyyun (bermisi pengajaran) dalam melangsungkan kegiatan keilmuan dan politiknya. Kecenderungan ta’limiy ini, sangat tampak dalam praktek politiknya, yaitu dalam pola relasi dan organisasi antar mereka berada pada penjenjangan dakwah (penyebaran misi). Penjenjangan dakwah dan aksinya mengikuti empat pelapisan:
*      Lapisan pertama ,kelompok remaja dan pemuda yang berkisar usia 15-30 tahun. Kelompok usia ini, pertumbuhan dan perkembangan jiwanya relatif masih selaras dengan fitrah, mengingat kelompok usia ini berstatus murid, sepantasnya bila mereka mengikuti para guru mereka.
*      Lapisan kedua, kelompok orang dewasa yang berkisar usia 30-40 tahun. Kelompok ini sudah mengetahui wisdom keduniaan dan sudah mampu menerima pengetahuan melalui “simbol”.
*      Lapisan ketiga, kelompok individu yang berkisar usia 40-50 tahun, mereka sudah dapat mengetahui numas ilahiy (malaikat tuhan)secara sempurna sesuai dengan tingkatan mereka. Ini adalah tingkatan para Nabi.(Ridla.2002.147)

       Dalam pola klasifikasi lain tentang jenjang dakwah kelompok Ikhwan al-shafa, sebagai menjadi :
*   Al-abrar al-Rhamah’ (yang baik-pengasih), yaitu anggota kelompok yang berusia 15 tahunan. Meraka mempunyai karakteristik jernih jiwa, murah hati, manis kata dan cepat paham.

*   Al-Akhyar al-Rhama’ (yang terpilih mulia), yaitu anggota kelompok yang berusia 30 tahunan. Mereka bercirikan concern terhadap Ikhwan, murah Hati, lembut, santtun dan peduli pada Ikhwan.
*   Al-fudlala’ al-Kiram (yang mulia terhormat), yaitu anggota kelompok yang berusia 40 tahunan. Mereka ini bercirikan otoritatif, direktif dan pemersatu atas perentangan yang ada dengan cara bijak, santun dan konstruktif
*   Al-balighun malakutallahi (yang telah mencapai malaikat Allah), yait anggota kelompok yang berusia 50 tahunan. Mereka ini bercirikan kepasrahan total, keteguhan jiwa dan penyaksian langsing kebenarn.(Ridla.2002.147-148)
            Keistimewaan selanjutnya dari Ikwan al-Shafa ada pada etos keilmuannya. Mereka tidak membatasi diri hanya dengan satu sumber, melainkan mereka benar-benar mengamalkan advokasi Nabi,”Hikmah itu barang hilang orang mu’min, ia akan mengambilnya dimanapun ditemukan” .dari sini, mereka mempunyai pandangan yang luas-menyeluruh tenang sumber-sumber pengetahuan  (ma’rifah). Ikhwan al-shafa membagi sumber pengetahuan menjadi 4 dimensi :
1.      Kitab suci al-Quran yang diturunkan, semisal taurat,Injil dan Al-Qur’an
2.      Kitab-kitab yang disusun oleh para hukama’ (orang-orang bijak) dan filosof, baik berupa Matematika, fisika-kealaman, sastra dan filsafat.
3.      Alam, yakni bentik empiris (phenoumenon) segala sesuatu sebagaimana adanya.
4.      Perenungan alam semesta dan tata aturan kosmiknya, atau sering disebut subtansi neumenon, ragam dan macamnya , serta kaitan fungsionalnya dengan kenyataan empris (phenounmenon)

            Selain itu, ada keistimewaan lain yang dimiliki Ikwan al-shafa, sebagai suatu keistimewaan yang paling menonjol. Mereka menolak fanatisme, dan berpegang pada kebebasan berfikir kritis untuk mencari kebenaran. Mereka menyeru kepada para pengikutnya agar tidak mengabaikan suatu disiplin keilmuan pun, tidak bersikap antipati terhadap suatu kitab pun, atau bersikap fanatik buta terhadap keterbukaan dan kebabasan intelektual, mereka mampu mempengaruhi generasi kurunnya untuk memahami keragaman dan perbedaan pemikiran,  serta pluralitas aliran pemikiran dalam pengembangan dimnamika keilmuan dan akselerasi derap langkah kemajuan intelektual-sosialnya.(Ridla.2002.148)
E.     Relevansi pemikiran pendidikan Ikhwan al-Shafa dalam pembaharuan pendidikan

      Ikwan menyebutkan tentang ilmu yang dapat dicapai melalui tulisan dan bacaan dengan cara ini dapat memahami kalimat, bahas dan ungkapa-ungkapan yang ditanggap melalui pemikiran. (el Khansa.2012)

      Dapat saya simpulkan bahwa Selain itu metode-metode pemikiran pendidikan yang dilakukan oleh Ikhwan ash-Shafa adalah metode dakwah, atau penyampaian dakwah terdapat di dalam makalah saya ini pada halaman 6-7.

      Relevansi pemikiran pendidikan Ikhwan ash-Shafa pada masa kini masih terpakai dan terealisasikan , contohnya yang pertama, dengan metode menulis pada saat ini metode menulis atau mencatat pelajaran pada tahap belajar mengajar masih di pakai, yang kedua, dengan meode bacaan, pada saat ini metode bacaan juga masih terealisasikan dan di pahami pada proses belajar mengajar, dengan membaca peserta didik dapat memahami makna/ maksud dari isi yang telah di bacanya apalagi metode tersebut dilakukan secara berulang-ulang seperti contohnya pada teori belajar Behaviorisme .

BEHAVIORISME(Perubahan Perilaku) = -  respon
                                                                             -  stimulus





Maksudnya, simulus(sebab) di ibaratkan makanan penyemangat, apabila kita terus membaca maka akan terjadi respon(akibat) atau tanggapan dari otak kita ,sehingga kita akan mengingat pelajaran yang sudah kita baca secara berulang-ulang tadi.
Yang ketiga metode dakwah, metode ini yang tampak sekali pada metode yang dilakukan oleh Ikwan ash-Shafa yaitu tertera di dalam kutipan makalah saya pada halaman 6-7 ,relevansinya pada masa kini masih dipakai contohnya seorang guru atau dosen menerangkan dengan pengetahuannya sedangkan murid atau mahasiswanya mendengarkan penyampaian tersebut, kemungkinan dari semua yang di dapat akan di fahami dan diaplikasikan di kehidupannya .
C.KESIMPULAN
            Teori-teori Ikwan al-shafa dan tujuan-tujuannya yang bersifat sosial dan intelektal. Pemikiran pendidikan yang dikemukakan Ikhwan al shafa bersifat rasio dan emperik, selain itu sistem pendidikan nya dengan penyampaian dakwah dengan berbagai jenjang Usia.
            Dari kutipan yang saya dapat Selain itu Ikwan ash- Shafa juga berpendapat bahwa ilmu harus dapat dari usaha (muktasabah) bukan pemberian tanpa usaha ilmu yang demikian di dapat dengan panca indera atau bersifat emperik. (Rahmad nur wahid.2012)
















Daftar Pustaka
·      Muhammad Jawad Ridla.2002.Tiga Aliran Pertama Teori Pendidikan Islam.Yogyakarta.PT.Tiara Wacana Yogya
·      Prof.Dr.H. Abuddin Nata,M.A.2005.Filsafat Pendidikan islam.Jakarta Selatan.Gaya media Pratama
·      Dr.Muniron.2010.Epistemologi Ikhwan as-shafa.Jember.Pustaka Pelajar
·      Elliisss.2012.pemikiran ikwan as-shafa. dalam. http://sumgaiman.blogspot.com/2012/06/pemikiran-ikhwan-al-safa.html




Minggu, 30 Juni 2013

MAKALAH ISLAM DAN BUDAYA LOKAL

MAKALAH
ISLAM DAN BUDAYA LOKAL
( Naik Tojang )
Di Susun Oleh :
kelompok 5
Khairunnisa (1121100019)
M.Jemi Saputra (1121100014)
Susantono (1121100007)

Tarbiyah / PAI
Kelas A



Sekolah Tinggi Agama Islam
Negeri Pontianak

Daftar Isi
BAB 1             PENDAHULUAN
                                           I.         Latar Belakang
                                        II.         Rumusan masalah
                                     III.         Tujuan
BAB 2             PEMBAHASAN
                                           I.         Sejarah Naik Tojang (Naik Ayun)
                                        II.         Proses sebelum melakukan Naik Tojang (Naik Ayun)
                                     III.         Upacara Naik Tojang (Naik Ayun)
                                     IV.         Peralatan Naik Tojang (Naik Ayun)
                                        V.         Proses Naik Tojang (Naik Ayun)
BAB 3             PENUTUP
A.           Kesimpulan

BAB 1
PENDAHULUAN
I.          Latar Belakang
       Bangsa indonesia merupakan bangsa yang beruntung karena memiliki sejumlah khazanah lama  dalam jumlah yang banyak, baik khazanah yang telah dikondisikan maupun yang masih terkam hanya di dalam ingatan penutur atau tokoh adat. Dalam literasi sastra kepemilikan atas khazanah lama tersebut dapat dibedakan atas dua kelompok yaitu kelompok sastra lama yang tersimpan dalam bentuk tulisan atau naskah yang tersimpan dalam bentuk lisan (ikram, 1983:6-9), sastra lisan serupa fenomena sosial yang tidak saja hidup ditengah masyarakat yang terpelajar (finnegan,1977:3). Ia ditransmisikan dari satu generasi ke generasi berikutnya secara lisan. Penyebaran tidak terbatas oleh batasan geografis bahkan sering kali ia berkembang ditempat jauh dari komunitas awalnya. Ditempat- tempat yang secara geografis berjauhan dan lingkungan kebudayaan yang relatif berbeda. Sastra lisan dan sebagian dari sebuah upacara adat merupakan salah satu warisan yang tidak ternilai , hal ini menunjukkan betapa arif dan bijaksanaya peninggalan khazanah bangsa yang masih di jalankan sebagian masyarakat keturunan di kabupaten pontianak. Memohon keselamaan ahli keluarga keturunan. berkaitan dengan hal tersebut bagi masyarakat yang masih mengganggap keturunan suku bugis dan sangat erat dengan kehidupan dat istiadat keraton mempawah bahwa adat istiada masih banyak yang melakukan seperti adat empat puluh hari, adat buang – buang, tepung tawar dan lain sebagainya. Di selenggarakan adat seperti ini sangat era kaitannya dengan sebuah pertautan hubungan anara penghuni kehidupan di alam nyata dengan penghuni kehidupan di alam gaib. Anggapan ini membutuhkan pemahaman dan keyakinan bahwa anara ke dua alam kehidupan tersebut sesungguhnya merupakan media untuk menjalin komunitas di antara dua dimensi kehidupan, maka segala proses yang terjadi di dalam kehidupan, baik kelahiran, pertumbuhan dan perkembangan anak, perkawinan, kematian dan lain- lainya dikomunikasikan atau ke mereka secara timbal balik.
II.          Rumusan Masalah
*   Sejarah Naik Tojang (Naik Ayun)
*   Proses sebelum melakukan Naik Tojang (Naik Ayun)
*   Upacara Naik Tojang ( Naik Ayun)
*   Peralatan yang di pakai Untuk Naik Tojang (Naik Ayun)
*   Proses ritual Naik Tojang (Naik Ayun)

III.          Tujuan
       Dapat mengetahui dan mempelajari budaya Naik Tojang (naik ayun) di daerah kabupaten pontianak .




BAB 2
PEMBAHASAN
I.          Sejarah naik Tojang (Naik Ayun)
       Sejarah naik tojang yang kami dapatkan dari bapak atau datok yang bernama Wa’ daeng berusia 70 tahun beliau menuturkan bahwa sejarah Naik Tojang ini memang suadah ada pada zaman nenek moyang hingga sekarang yang di teruskan oleh anak cucunya. Beliau hanya menjelaskan seperti itu karena beliau hanya mengetahui proses ,alat atau perlengkapan dan  ritualnya saja .
II.          Proses sebelum melakukan Naik Tojang (Naik Ayun)
       Berkenaan dengan prosesi ada buang – buang, prosesi dilakukan untuk mengawali pelaksanaan kegiatan adat ,seperti adat kelahiran, adat khitanan, adat perkawinan, dan kegiatan adat lainnya . proses berfungsi sebagai wahana komunikasi antara anggota keluarga penenbahan kodung yang tinggal dialam nyata dan yang tinggal dialam gaib.
Perlengkapan prosesi ini terdiri dari antara lain :
1.        Sebutir telur ayam kampung yang masih mentah, (umumnya ayam yang berwarna hitam disebut ayam selase)
2.        Sebutir buah pinang yang sudah masak menguning,
3.        Lima lembar sirih bertemu urat,
4.        Sirih rekok(kapur,gambir, pinang)
5.        Rokok daun
6.        Sebotol minyak bau disebut minyak bugis,
7.        Sebatang lilin kuning (lilin wanyi)
8.        Setumpuk berteh (terbuat dari padi yang digongseng)
9.        Beras kuning
10.    Sebentuk cincin yang diikat dengan benang kuning
11.    Sebuah piring mangkok berwarna putih polos.
Semua alat perlengkapan tersebut diletakkan diatas sebuah nampan perak yang dilapisi kain kuning. Setelah kesemua alat perlengkapan tersedia, pelaksanaan acara adat buang-buang dapat dilaksanakan. Pelaksanaan acara adat ini adalah seorang dukun atau pawang yang berpakaian hitam-hitam, dua orang pengawal yang membawa payung dan sebilah pedang, dan anggota keluarga yang mempunyai hajat. Semua pelaksanaan acara ini duduk pertahapan, kecuali pengawal yang mempunyai hajat. Semua pelaksanaan acara ini duduk bertahapan, kecuali pengawal yang duduk dibelakang anggota keluarga yang berhajat; mengitari alat perlengkapan yang sudah disediakan. 
Prosesi setelah empat puluh hari ibu melehirkan . apabila sudah genap empat puluh hari ibu melahirkan, maka diadakan upacara yang disebut dengan bebereseh atau basu’ lante. Bagi ibu yang akan menjalankan prosesi adat tersebut maka sebelumnya di persiapkan beberapa perlengkapan antara lain;
1.      Nasi ketan
2.      Air Gula Merah
3.      Tetohong
4.      Ayam seekor
5.      Kain basah untuk mandi
6.      Bedak dan langir secukupnya
Mandi bagi ibu setelah melahirkan di dalam hukum islam disebut mandi nifas dengan niat membersihkan seluruh tubuh dan mengangkat hadas besar untuk mandi telah dipersiapkan segala perlengkapannya seperti buah langir beberapa buah yang direndam di dalam air dan air hangat secukupnya. Madi dilakukan di dalam rumah dan pantang mandi di tempat yang terlihat orang dan tempat umum.
saat sedang buang-buang , mengucap bismillah memohon kepada Allah atas segala sgangguan manusia. Memberi salam kepada Allah atas segala ganggua jin iblis dan gangguan manusia memberi salam kepada leluhur yang tidak nampak secara lahiriah.
Setelah selesai mandi maka bayi yang sudah bersih diserahkan ke pada ibunya untuk diberikan susu, biasanya bayi langsung tertidur dipangkuan ibunya. Peralatan lengkap dirabun terlebih dahulubaru kemudian dibawa ke pinggir sungai yang airnya mengalir ke muara laut. Dukun bayi membacakan do’a keselamatan dengan memberitahukan pada leluhur agar di dalam pelaksanaan upacara tidak mendapat gangguan dan terhindar dari malapetaka dan mohon kepada Allah dengan mengucap kata-kata antara lain :
Saat sedang buang – buang
Mengucap bismillah memohon kepada Allah atas segala gangguan jin iblis dan gangguan manusia memberi salam kepada leluhur yang tidak nampak secara lahiriah
Membaca do’a untuk Nabi Khaidir as, mengucap kata-kata bahwa inilah yang mampu kami berikan agar kami jangan diganggu, mohon maaf atas segala kekhilafan anak cucu pada leluhur yang terdahulu  minyak bau diteteskan terlebih dahulu (minyak yang dibuat khusus buat acara adat dan terbuat dari minyak kelapa yang sudah dimantera terlebih dahulu. Di sebut minyak bau karena baunya yang menimbulkan aroma khas dan sering dipakai pada acara-acara adat seperti naik ayun, empat puluh hari setelah melahirkan dan lain  sebagainya dalam kegiatan adat.
Pring yang disebut dengan pinggan berwarna putih bersih untuk menempatkan perlengkapan alat-alat buang-buang, barang- barang tersebut di tenggelamkan di dalam air dengan mengikutu arus air mengalir, sebelum di tenggelamkan digoyang terlebuh dahulu sebanyak tiga kali dengan niatdidalam hati mohon jangan di ganggu.
Air diambil sedikitdibawa pulang dan air tersebut ditampung kedalam piring yang dipakai sebagai tempat perlengkapan buang-buang.
Minum air buang-buang
Sampai dirumah air dipinumkan sedikit dan dimandikan pada anak tersebut, begitu juga dengan ibunya dengan memohon keselamatan bahwa ir buang-buang dipinum dan mohon keselamatan agar jangan diganggu oleh leluhur dan adat sudah dijalankan dengan berbagai prosesimenurut urutannya. Kegiatan upacara adat ini dipimpin sepenuhnya dan dilakukan oleh dukun bayi. Acara yang terakhir adalah pembacaan do’a selamat dan acara buang-buang sudah dianggap selesai.

III.          Upacara Naik Tojang (Naik Ayun)
       Ketika upacara naik ayun yang juga disebut dengan naik Tojang diatas ayunan dan diberi beberapa perlengkapan terdiri dari 7 warna benang yang diikat di atas ayunan dengan simbol – simbol yang melambangkan antara lain;
Tujuh benang yang simpul menjadi satu melambangkan bahwa hubungan jalinan silaturahmi sampai tujuh turunan, dan didekat simpulan benang tersebut beberapa makanan ketupat yang melambangkan bahwa makanan tersebut memang sangat dihormati dan dijunjung tinggi
1.      Benang Putih
2.      Benang Merah
3.      Benang hijau
4.      Benang hitam
5.      Benang coklat
6.      Benang Ungu
7.      Benang kuning
            Semua barang diikat menjadi salah satu yang disebut dengan cindai, dan   beberapa  kuah ketupat lemak simbol lambang dipasang di bawah ayunan memohon kepada Allah SWT agar dapat terlindung dari segala godaan syaitan, begitu juga kapur yang di corengkan pada anak dan ibunya. Simbol sapu lidi melmbangkan bahwa penyakit bayi tersebut sudah dibuang, simbol lesung batu menggambarkan bahwa diharapkan anaka tersebut tidak berat hati dengan segala sesuatu urusan dan kain yang berwarna kuning melambangkan bahwa ia adalah dari keturunan bugis memasuki ekor kucing pada ayunan bayi agar bayi tersebut tidak mudah terkejut dan kehilangan semangat.


IV.          Peralatan Naik Tojang (Naik Ayun)
Lambang di Bawah Ayunan
Adapun tempat-tempat yang dipasang antara lain :
1.      Diatas ayunan dan diberi beberapa perlengkapan terdiri dari 7 warna
a.    Benang putih
b.    Benang merah
c.    Benang hijau
d.   Benang ungu
e.    Benang coklat
f.     Benang kuning
            Semua benang diikat menjadi satu yang disebut dengan cindai, dan beberapa buah ketupat lemak
1.    Lambang dipasang pada tiang ayunan
2.    Lambang dipasang dibawah ayunan
3.    Contengan kapur pada telapak kaki anak dan ibunya
4.    Didalam ayunan diberisapu lidi, ijuk
5.    Anak lesung batu
6.    Kain berwarna kuning
V.          Proses ritual Naik tojang (Naik Ayun)
       Sebelum memasukkan bayi dalam ayunan, didahului dengan memasukkan seekor kucing, sapu lidi dan anak lesung batu kedalam ayunan, kemudian barang-barang yang ada di dalam ayuanan dikeluarkan an dibersihkan dahulu barulah bayi dimasukkan oleh dukun ke dalam ayunan untuk ditidurkan, untuk ayunan bayi sediri berupa kain kuning yang tali ayunan pada sambungan tali dengan kain digantung pisang dan cabe. di bawah ayunan  diisi dengan air putihdi ddalam botok ditulis dengan lam jelalah (lam alif) pada dua sisinya.


Selanjutnya dengan prosesi atau rutual yaitu :
1.      Pembersihan Ayunan
2.      Memasukkan seekor Kucing kedalam ayunan
3.      Mengeluarkan sapu lidi
4.      Memasukkan bayi ke dalam Ayunan
5.      Dan terakhir membaca Do’a rasul
       Pembacaan do’a rasul dipimpin oleh seorang yang dianggap mengetahui do’a khusus tersebut. Do’a ini dikhususkan bagi keluarga yang berniat untuk mendapatkan anak dan memohon keselamat bagi anak tersebut. Adapun yang menjadi perlengkapan untuk ritual do’a rasul antara lain;
1.      Seekor ayam jantan yang tidak cacat
2.      Pulut kuning
3.      Santan kelapa
4.      Air dalam mangko putih
5.      Kain bewarna kuning
6.      Talam besar
7.      Inti yang dibuat dari parutan daging kelapa yang telah dimasak dengan gula
            Perlengkapan pembacaan do’a rasul, dimulai dari pencaharian ayam yang tidak cacat dan yang dipilih yang dianggap cukup umur, besar dan sehat menurut ukurannya. Kemudian ayam dipanggang dengan cara pada bagian dalamnya jeroan dibuang dan hati, limpa, empedu digabung menjadi satu pada tusukansate. Pemanggangan ayam harus utuh tidak boleh ditinggalkan salah satu anggotanya. Nasi kuning dibuat dengan campuran beberapa kunyit dan dicampur dengan air santan untuk menghasilkan kwalitas yang baik maka makanan tersebut dipanggang di atas kayu api. Setelah lengkap maka hidangan dilapaisi dengan kain kuning dan diletakkan pada sebuah talam besar.
            Membaca do’a rasul ini khusus bagi keluarga terdekat untuk menghadirinya. Do’a dipimpin oleh orang yang dianggap alim dan faham tentang membacanya. Setelah selesai pembacaan do’a rasul maka pada bagian hati, limpa, dan empedu diberikan kepada kedua orang tua dan pada bagian lain dibagikan dengan kaum kerabat, tetangga yang terdekat. Keyakinan sebagian sebagian masyarakat bahwa tulang ayam yang sudah dibaca akan apat dijadikan penangkal berbagai penyakit atau juga untuk menghindari dari gigitan binatang buas, sehingga setelah acara selesai maka sebagianya mengumpulkan untuk dibawa pulang ini juga diberikan pada yang memesannya.

Makna Dari Acara
Makna yang tersirat adalah untuk mensucikan ibu dan bayi dari mara bahaya dan permohonan keselamatan dan kesejahteraan kepaa Allah SWT. Adapun makna yang terkandung dari simbol-simbol upacara yang dipergunakan padaupacara di bawah ini antara lain :
§  Upacara Adat Buang-buang
§  Arti bendera
§  Upacara tepung Tawar





BAB 3
PENUTUP
A.      Kesimpulan
     Dari penelitian kami dapat disimpulkan bahwa Adat dan agama dapat dikolaborasikan asal tetap dalam koridor yang tiak melanggar agama. semua itu merupakan pemersatu atau salah satu penyebaran agama yang melalui adat dan budaya. Dari adat ini semua mengandung makna yang positif untuk kehidupan masyarakat terutama pada masyarakat bugis.








Kata Pengantar
Bismilahirrahmanirrahiim,
Segala puji bagi ALLAH,tuhan semesta alam yang senantiasa mencurahkan rahmad dan karunia-nya salawat serta serta salam semoga di limpahkan kepada Nabi Muhammad S.A.W., keluarganya ,para sahabat ,dan seluruh umatnya. Kami bersyukur kepada Illahi Rabbi yang telah memberikan taufik dan hidayahnya kepada kami ,sehingga Makalah yang berjudul : NAIK TOJANG  dapat diselesaikan.
Materi dalam Makalah ini disusun berdasarkan penelitian-penelitian di daerah kabupaten pontianak ,agar kami pada umumnya mengerti tentang islam dan budaya lokal terutama tentang NAIK TOJANG tersebut.
Kami  menyadari, bahwa dalam Makalah ini masih terdapat kekurangan dan kekhilafan .oleh karena itu kepada para pembaca khususnya ,kami mengharapkan Saran dan Kritik demi kesempurnaan Makalah ini.
Semoga makalah ini benar-benar bermanfaat bagi para pembaca dan masyarakat pada umumnya . Amin.




Pontianak, 26 Juni 2013
Disusun oleh:
Kelompok 5